PENYAKIT SOSIALISME

PENYAKIT SOSIALISME

Sosialisme itu penyakit. Penyakit yang sangat membahayakan dalam kehidupan, kedamaian dan keselamatan umat manusia di dunia, termasuk di tanah Papua.

Tidak cocok mendapatkan tempat di dunia ini selama sosialisme itu egosentris, dan ia memaksakan kehendak secara sepihak agar orang lain, terutama masyarakat kapitalis dan imperialis mengikutinya untuk menghapuskan hak kodrat individual.

Sosialisme boleh bermimpi setinggi langit, tetapi sampai kapan pun tidak akan pernah berhasil, apalagi menang. Mimpi sosialisme untuk menjadikan segala kepemilikan sebagai kepemilikan bersama hanya akan menjadi seperti seorang yang mimpi di siang bolong.

Menang sekalipun palingan kebetulan atau hanya karena nasib-nasipan (fatalistik). Tapi setelah jaya atau bertahan pada sedikit waktu, pasti ia akan tumbang dalam kekuatan kapitalis dan imperialis–kembali pada basis ketidakpercayaan.

Kecuali dia jelih mempertimbangkan tuntutan hak kepemilikan dan menumbangkan rivalnya dengan cara "kompromi". Atau dengan jalan merendahkan diri, tunduk pada agama dan mengikuti saran seperti dalam "Rerum Novarum".

Sebuah jalan yang memang agak berat bagi kaum sosialis untuk menerimanya dengan mudah karena pertimbangan "rasa malu, melawan tunduk dan lain sebagainya" yang sering digunakan untuk meningkatkan eksistensi diri.

Kalau hanya masih menggunakan metode revolusi industri kuno di Eropa, terutama Prancis dan Rusia, juga Cuba, Vietnam dan lainnya, tidak akan relevan walaupun serasa masih hangat untuk mencobanya.

Karena sosialisme bukan persoalan hitungan, yang akan menjamin nasib dan masa depan manusia dengan mimpi-mimpinya yang indah setinggi langit itu dengan pasti, menurut penganutnya.

Tidak ada kepastian dalam sosialisme. Karena ia adalah konsepsi sosial yang mengikuti gaya, berat dan arus perkembangan yang tidak menentu untuk meyakinkan umat manusia.

Jika sosialisme universal, lalu ingin meyakinkan orang, tidak harus menjadi sosialisme asing seratus persen. Dia harus beralienasi, bahkan  beradaptasi dengan perkembangan jamannya.

Kalau tidak, ya selamat melawan. Yang jelas sampai kapan pun tidak akan pernah menang di muka bumi ini. Itu pasti kalau mengikuti satu arah itu, sebagaimana yang dipahami kaum sosialis, bahwa sosialisme itu jawabannya.

Jawaban untuk menciptakan surga di bumi, atau membangun dunia tanpa kelas sosial dan sekat-sekat kehidupan. Sebuah mimpi yang juga omong kosong, yang kalau tidak sadar, dengan kaidah dasar sosialisme itu justru merusak tatanan dunia ini.

Dan sejarah membuktikan itu. Revolusi industri bakal muncul karena prinsip sosialisme dan komunisme, yang menentang kapitalisme dan imperialisme. Konflik berdarah-darah yang muncul di beberapa negara juga salah satunya ula dari itu–menghapuskan hak kepemilikan, yang berseberangan dengan agama (katolik).

Sosialisme itu cocoknya sebagai metode saja. Atau pisau yang hanya mengupas kulit kayu. Artinya, hanya untuk memperlihatkan fakta unik daripada inti praktik kolonialisme, kapitalisme dan imperialisme.

Tapi dia bukan jawaban mutlak untuk membangun kesadaran, kesejahteraan, dan kedamaian di muka bumi. Kalau dikatakan kunci kehidupan dan keselamatan, tidak!

Dia hanya satu jalan kritisme, tapi bukan satu-satunya jalan kebenaran, kehidupan dan keselamatan umat manusia.

Jika mau, salah satu jalan keselamatan sosialisme yang bisa mencapai target lain untuk hancurkan musuhnya adalah membangun sosialisme yang bercorak lokal, membangun sosialisme religius yang bukan sosialisme komunis toh yang demokratik.

Keselamatan sosialisme ada di jalan itu. Kalau masih egois dan mau mempertahankan konsepsi dasar seperti kerikil itu tidak akan pernah bisa membawah buah pikiran itu menjadi nyata dan manusia rasakan itu.

Sampai berdoa kepada Karl Marx, Engels, dan lainnya, yang jelas-jelas bukan Tuhan dan tidak mampu mengabulkan impian dari liang kubur itu hanya akan begitu saja: gertak kapitalisme dan imperialisme. Tapi tidak akan pernah benar-benar kasih mati. Kemudian ia ambil alih. Itu nihil!

Tuhan akan memalang jalan itu. Karena diatas Karl Marx dkk tidak ada Tuhan lagi. Diatas mereka tidak ada apa-apa, kecuali klaim yang bernafas pada keterbatasan kekal. 

Hanya Tuhan ditentang dan bahkan dilawannya itu. Dengan demikian sangat jelaslah, bahwa tidak ada masa depan dalam sosialisme murni dari Eropa!

Selama kehendak untuk mengakui kodrat kepemilikan manusia dibalut dengan egoisme, selama itu sosialisme akan kemasukan angin. Tidak akan pernah berdaya. 

Ini semakin memperkokoh ketidakpercayaan, karena ia tidak memiliki basis kekuatan ekonomi dan politik setingkat kapitalis dan imperialis. Hanya mengandalkan pemikiran, gerakan, organisasi, jaringan dan lainnya.

Itu tidak bisa. Sosialisme murnis Barat-Baratan tidak bisa hancurkan kapitalisme dan imperialisme yang barakar tua dalam segala sel-sel kehidupan umat manusia, termasuk UN, IMF dll.

Jika Marx pada hakekatnya membangun mimpi itu diatas mimpi Sokrates, yang menjadi catatan kaki dari Marx dalam konsep dunia idea, dia kembali tunduk pada apa yang dimaksudkan Sokrates yang sebenarnya Tuhan.

Itulah dosa terbesar Marx. Walaupun mimpinya di depan mata air begitu bagus, tidak sadar kalau airnya itu akhirnya akan kabur dalam perjalanan dan proses yang panjang, serta akhirnya harus kembali tiada/hilang/tenggelam  dalam lautan kelak.

Tapi cukup baik kalau itu adalah sosialisme religius demokratis. Atau paling tidak mengakui kehendak Tian itu sebagai tuntutan utama. Terlepas dari ia mau melawan kapitalisme dan imperialisme, yang memang kaum agamis pun ikut melawannya atas segala praktik kolonialisme seperti di West Papua saat ini.

Sosialisme itu mimpi buruk. Dia selalu "menipu" dengan menawarkan cita-cita utopis. Dia "menipu" orang bahwa dunia ini hanya akan hidup damai dan bebas apabila tujuan dan prinsip sosialisme tentang sama rasa sama rata atau kehidupan tanpa kelas dapat terwujud dalam mimpi idealisme juga sosialisasinya.

Tapi Pertanyaan: apakah itu benar-benar akan terwujud? Jawabannya tidak. Hanya sesederhana itu, setara dengan "ketidakapa-apannya" sosialisme.

Banyak negara-negara yang dulu mendorong sosialisme (bahkan komunisme) hingga pernah jaya pun tumbang dan hancur tak tertatakan seperti ini Soviet, yang kini makin ganas di Ukraina untuk merebut dan berkuasa di bekas wilayah kekuasaannya.

Kuba misalnya, negara yang katanya sosialis, tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa orang yang dulu memperjuangkan sosialisme itulah yang malah menjadi penguasa, dan koruptor serta kehilangan kendala untuk menjaga mimpi sosialismenya.

Kita bicara sosialisme itu baik, tapi itu sangat manusiawi. Seperti para kolonial, kapitalis dan imperialis yang lebih banyak dikuasai oleh hawa nafsu, ambisi, egoisme dan lainnya.

Hari ini kita boleh menawarkan cita-cita sosialisme, tapi setelah berkuasa, karena kita sangat manusiawi, kita justru bisa saja menjadi kolonial, kapitalis dan imperialis baru diatas "peti mati sosialisme".

Jadi, stop omong kosong bicara seolah-olah sosialisme adalah segala-galanya. Sosialisme bukan prinsip dasar hidup, apalagi sangat pasti menjamin kedamaian dan kebahagiaan permanen. 

Selama sosialisme lahir dari pikiran manusiawi, kedagingan sosialisme itu akan menghancurkan sosialisme itu, walaupun para sosialis akan bicara ini dan itu dengan tanpa hosa-hosanya.

Dunia akan semakin baik dan damai justru bukan karena sosialisme, bukan juga karena kolonialisme, kapitalisme dan imperialisme. Tetapi karena terlepas dari semuanya, yaitu karena kita hanya ingin "ada" dalam kedamaian satu-satunya tanpa kecenderungan apapun [mungkin ini sudut marginalnya].

Selamat malam, Tuan!
Selamat hari ini, Tuhan!

Posts by: Mr. @Soleman Itlay

Postingan populer dari blog ini

TPNPB OPM LAWAN SAMPAI PAPUA MERDEKA